Jumat, 29 Januari 2010

“Rasa”

Setiap keberadaan slalu ada “rasa”
Mustahil… segala yang ada tanpa rasa
Terasingpun sedang mendulang rasa
Setelah bertemu dan berpisah menuai rasa
Ada yang mengingat dan juga melupakannya
Seperti berkaca di lautan rasa
Ada yang meluapkan rasa
Ada yang menengelamkan rasanya
Ada yang menghayutkan rasanya
Dan biarkan berlalu bersama waktu
Hingga kepenghujung perasaannya

Wahai Nahkoda pembawa rasa itu
Engkau Mengarungi lautan rasa
Terombang-ambing di samudera rasa
Tidak percuma yang kau lakukan
Demi perasaanmu yang kau inginkan
Teruntuk pelabuhan rasa yang sebenarnya
Yang sebenarnya ketenangan jiwamu

INSPIRASI akan Perumpamaan

Ibarat daun hijau ketika telah tiba kemusnahannya, datangnya kekeringan melanda hijau, yang semula menghijau akan mengalami kekeringan dan daun itu akan rapuh lalu berguguran. Keindahannya pun memudar, hijau menjadi kering dan rapuh, dia pernah menjadi indah dalam ruang waktunya dalam sejarah kehidupannya, Ia pun pernah menebarkan harum bunga dan keindahan hingga akhirnya. Demikianlah cara ia mengabdi pada penciptanya. Ia di kenang dan dikagumi di akhir kehidupannya ia begitu mengilhami dan berharga bagi kehidupan dedaunan hijau selanjutnya.
Bagaikan mata air yang jernih dan alirannya, menjadikan kesejukan dan kehidupan bagi tumbuhan di sekitarnya, begitu berarti bagi tumbuhan-tumbuhan yang ada disekitarnya. Tidak seperti mmata air yang mengandung racun, hanya menebarkan kemusnahan dan kematian bagi tumbuhan yang ada disekitarnya.
Bagaikan tanah yang subur, ia akan memberikan manfaat dan kesuburan untuk tumbuh bagi tanaman yang tumbuh padanya, menjadikan rimbun dan belantara, menjadikan manfaat yang baik bagi yang memanfaatkannya. Tidak seperti tanah yang tandus dan kering hanyalah kegersagan dan tidak ada yang mampu bertahan padanya hingga kemusnahan bagi tumbuhan yang akan tumbuh padanya.
Bagaikan sumber panas yang baik ia akan memberikan kehangatan dikala dingin, memberikan kenyamanan, memberikan manfaat yang lebih bagi pemanfaatannya, menjadikan yang beku menjadi cair hingga dapat dimanfatkan.tidak seperti sumber panas yang buruk yang membakar, menghanguskan, memusnakan apa yang ada disekelilingnya. Hingg yang ada hanyalah abu dan arang dari sisa-sisa yang di sengatnya.
Bagaikan udara dan angin yang baik akan memberikan nafas,kesejukan dikala panas menerpa, memberi dorongan pada layer berkembang, memberikan ayunan yang indah di pepohonan rimbun, memberi gelombang yang indah dan membawa makanan bagi ikan di lautan, memberi sebaran bibit pepohonan di hutan, memberi manfaaat yang besar bagi keidupan. Tidaklah seperti topan yang membawa kehancuran dan kerusakan pada bentukan alamiah yang diidamkan, merubah kedamaian dan ketenangan yang diam.
Ibarat seberkas cahaya di tempat yang terang benerang di iantara cahaya yang lebih terang, mungkin ia tak diketahui dan tak berarti bila di pandangi di cahaya yang lebih dekat dengan sumbernya, namun di tempat yang gelap ia begitu berarti bagi yang ingin mengetahui isi kegelapan itu, karna seberkas cahaya yang ada dalam kegelapan akan memberi arti memberi pencerahan bagi sekelilingnya.
Bagaikan hasil dari usaha yang gigih dan kerja keras, buah dari perjuangan dan keringat sendiri, seberapapun hasilnya akan terasa nikmat, ukuran, jenis, bentuk, warna, jumlah hanyalah belenggu kenikmatan, hanyalah rasa sukur yang dalam dari buah hasil kerigat sendiri menjadikan nikmat dan berkah bagi orang-orang yang telah berkerja keras. Bila di bandingkan kenikmatan dari hasil keringat orang lain, yang menikmati hasil yang bukan haknya, yang berbangga dari hasil kerja keras orang lain tidak ubahnya sebagai parasit atau benalu pada tumbuhan yang tumbuh subur, ia ikut menikmati namun tak senikmat penikmat sesungguhnya.
Bagaikan lebah dan burung-burug yang berterbangan mencari mikmat yang dikaruniakan kepadanya yang telah disediakan untuk keperluannya, maka pada pagi hari ketika mentari terbit, maka bertebaranlah pada pepohonan dan bunga-bunga, mencari bekal untuk melanjutkan kehidupannya dan kelanjutan generasinya, tidak tangggung-tanggung melintasi jarak yang begitu jauh dari asalya dan pada saaat menjelang petang mereka kembali dengan tidak sia-sia membawa hasil yang mengembirakan bagi seisi rumahnya bekal itu menjadi bermanfaat bagi mereka dan yang lainnya, menjadi sarang dan madu menjadi obat yang baik bagi yang lainnya,.

Selasa, 22 Desember 2009

Presepsi Akan Kemerdekaan

Kemerdekaan berislam adalah kembali pada Allah merupakan penyerahan sepenuhnya pada Allah dengan segenap keikhlasan hati. Cobalah kita perhatikan di lingkungan sekitar kita, dimana dalam kehidupan beragama sebagai umat islam, betapa banyak yang melakukan ibadah atau amalan (syariat) kongkritnya dalam menunaikan shalat, berpuasa,zakat,sedekah mengharapkan pujian, agar dia dapat menyandang predikat alim, dermawan dan seterusnya. Mereka memposisikan predikat dari sesama mahluk di posisi yang tinggi bukan kepada Tuhan YME, mereka berupaya sekuat mungkin dengan mengorbankan potensi-potensi yang dimilikinya, hanya untuk mendapatkan pengakuan dari keluarga,istri,anak, kerabat, teman dan partai politiknya sehingga dikagumi dan dieluk-elukkan oleh banyak orang.
Mungkin saja mereka lupa akan kemerdekaan dalam berIslam sebagaimana mestinya, sehingga mereka tidak merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam menjalankan ibadahnya karena selalu di bayang-bayangi dengan ambisi dan kepentingannya membiarkan kehidupannya dalam penjajahan demi predikat yang akan disandangnya, penjajahan yang akan berlarut-larut dan pada akhirnya yang ditemukannya adalah kegagalan dan kerugian. Atau dengan kata lain ibadah yang dilakukannya hanya sebagai ritual belaka atau rutinitas yang harus dilakukan. Ibadah yang dilakukannya tidak berdasarkan pada penyerahan sepenuhnya pada Allah SWT dengan segenap keikhlasan dan ketulusan hati dalam menjalankannya. Sudah tentu jika menjalankan ibadah itu dengan semestinya untuk kemerdekaan berislam dalam konteks tersebut justru sebaliknya lihat apa yang akan terjadi adalah kebaikan.

Kemerdekaan hati adalah terbebasnya hati dari belenggu-belenggu yang menodai kesucian hati sanubari/nurani dalam ber-kehidupan. Cobalah kita perhatikan lagi di lingkungan sekitar kita, betapa banyak yang menjalani kehidupan ini dengan mengabaikan kemerdekaan hatinya. Membiarkan hatinya terjajah, terpenjara dan terbelenggu dengan belenggu-belenggu hatinya. Betapa banyak orang yang mengesampingkan hal tersebut, hinga menjauhkan mereka dari ketenangan dan suara hati sanubari dan nurani sebagai fitrah manusia.
Belenggu-belenggu hati yang dimaksud dalam uraian tersebut adalah berbagai penyakit hati yang terdapat dalam hati manusia. Diantaranya adalah perasaan dengki,iri,riya,sombong,ingkar,munafik,juga dengan presepsi, pengaruh pengalaman, keterbatasan penilaian indra dan seterusnya. Dengan menempatkan belenggu-belenggu hati tersebut sebagai dasar penilaiaannya, mereka mengambil keputusan dan bertindak dan menafikkan sisi-sisi kemanusian, bertindak ceroboh, semena-mena dan lainnya, ini hanya menimbulkan kekacauan dan pertentangan dan jauh dari kedamaian. Kemerdekaa hati yang berdasarkan pada kesucian hati sebagai sumber suara hati yang terdalam dan memiliki esensi kebaikan pada manusia dalam berkehidupan, seharusnya mendapat posisi yang istimewa dalam menjalani kehidupan ini sehingga kedamaian dan ketenangan hati sebagai buah dari kemerdekaan hati menjadikan kita pribadi-pribadi yang memiliki kebijaksanaan dan kearifan dalam menjalani kehidupan ini.

Kemerdekaan hidup adalah kembali pada hati sanubari dan jiwa yang tenang seperti semulanya sebagai karunia Tuhan YME. Coba kita menilai kembali tentang kemerdekaan hidup kita, kaitannya sebagai mana uraian di atas mengenai kemerdekaan hidup. Sudah sampai dimana ketenangan hidup kita dalam segala aspeknya ? apakah yang kita lakukan sekarang mengaktual pada ketenangan jiwa dan hati kita? Bagaimanakah memperoleh kembali ketenangan jiwa kita ?, memang tidaklah mudah menjawab pertanyaan ini. Coba kita amati di sekeliling kita, banyak yang mengira untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan hati itu sumbernya dari kekayaan, jabatan, napsu syahwat, banyaknya budak yang dimiliki, banyaknya para wanita cantik yang mengelilinginya, dan ketenaran dan populariotas, hal ini justru menjadikan mereka terjajah bukan ?, mereka memuja-muja dan mendambakan akan hal-hal tersebut dan meyakini kebahagian atau ketenangan jiwa akan mereka peroleh namun hal ini menjadikan kegelisahan dan kekhawatiran yang panjang dalam hati dan mempengaruhi jiwanya, sehingga selalu merasakan kehausan akan ketenangan jiwanya.
Intensitas kemerdekaan hidup kita tercapaikan apabila kualitas hidup yakni ketenangan jiwa dan ketentraman hati telah dapat kita rasakan dalam kenyataan berkehidupan kita dalam segala aspeknya, hal ini menjadi parameter kesuksesan hidup yang sebenarnya, bukan pada seberapa besar kepuasan kita dan ketenangan hati kita bila mendapatkan jabatan yang tinggi, uang yang banyak, kekayaan, disegani, istri yang cantik, mobil yang mewah, rumah yang mewah, dan yang lainnya, tetapi dengan segala kemampuan yang kita miliki itu kita dapat melakukan perbuatan yang bijaksana dan arif dalam mengelolanya. Hal yang menjadi urgen dari kemerdekaan hidup disini adalah keadaan jiwa dan hati yang tenang, yang menjadi tujuan kehidupan itu sendiri. Tentunya kemerdekaan hidup disini adalah segala yang bersumber dan pengembalian sepenuhnya pada Tuhan YME, yang merupakan tunjukan dari yang maha berkehendak yaitu Allah SWT, Yang mendasari dalam segala aspek berkehidupan kita.

Kemerdekaan sosial dan ekonomi adalah saling berbagi dan kasih-sayang diantara sesama manusia, sebagai hamba Tuhan YME. Merujuk pada pengertian kemerdekaan diatas, cobalah kita menilik pada kenyataan kehidupan yang terdapat di sekitar kita, dapatkah kita merasakan kemerdekaan yang dimaksud ?, kenyataan demi kenyataan hidup yang ada di sekeliling kita apakah telah relevan dengan pengertian diatas ? kemerdekanan seperti yang dikemukakan sebelumnya, bukanlah sekedar arti kata namun merujuk pada pemahaman yang terilhami dari suara-suara hati terdalam yang dimiliki oleh seluruh manusia, bukan pada hati daging di jasad tubuh manusia itu sendiri. Sehingga yang dapat dikatakan merdeka adalah bagi orang-orang yang dapat mendengarkan dan melakukan apa yang maujud pada suara hatinya, memang hal seperti ini tidak mudah untuk dirasakan dan dilakukan kecuali bagi orang-orang yang dapat menyadarinya dan mengalaminya atau dapat mengambil hikmah dari apa-apa yang dialami dalam perjalanan hidupnya dengan penuh keikhlasan.
Cobalah kita amati, mulai dari diri kita dan apa yang terdapat dilingkungan kita, apakah keberadaannya telah merdeka ? atau masih dalam keadaan terjajah ?, jawaban kemerdekaan itu, apakah diri kita suka untuk berbagi, suka menolong, suka membantu, suka memanjangkan cahaya pertolongan yang kita mampu untuk orang lain dengan penuh kesadaran dan keikhlasan ??, atau justru sebaliknya kita masih disibukkan dengan kegemaran mencari-cari kesalahan orang lain, suka mempersulit keadaan orang lain, suka menzalimi orang lain, suka membunuh karakter orang lain, suka menyakiti orang lain atau yang lainnya. Bukankah telah nyata apa yang menjadi kerusakan dan kebaikan dari kemerdekaan dan keterjajahan itu dalam kehidupan kita. Dapat pula kita melihat dari lingkungan kita, apakah masih ada orang-orang yang memiliki kemerdekaan itu ?. setidaknya semampu kita, marilah kita menyadari akan kemerdekaan ini, betapa indahnya hubungan dalam kehidupan ini yang dihiasi dengan kasih-sayang, saling menolong, membantu, berbagi antara sesama, yang mana dari ini semua adalah bagian dari rahmat Tuhan YME. Dan janganlah keterjajahan yang selalu menjadikan amarah dalam dada kita menjadikan kita orang-orang yang merendahkan diri kita di hadapan mahluk Tuhan lainnya.

Kemerdekaan berbangsa adalah terbebasnya sebuah negeri dari pemimpin-pemimpin yang zalim. Sebgai mana yang terdapat pada negeri-negeri yang terjajah itu, mereka memiliki pemimpin-pemimpin yang zalim, pemimpin-pemimpin itu mezalimi rakyatnya dengan mengajak mereka untuk menghamba kepadanya, memuja-muja kepadanya, mengagung-agungkannya. Pemimpin-pemimpin yang zalim itu lebih senang melihat penderitaan dan kekacauan yang melanda negerinya, suka mengambing hitamkan kambing yang putih, pemimpin itu tidak segan-segan mengorbankan rakyatnya dan yang lainnya demi popularitas atau tahta yang menjadi singgasananya, pemimpin-pemimpin yang zalim itu gemar melakukan perbuatan yang berlebih-lebihan yang mendurhakai fitrahnya.
Cobalah kita amati pemimpin-pemimpin negeri kita ini? Kedudkan dan jabatan yang diembannya menjadikan mereka sebagai teladan atau sebagai kriminal yang harus kita nafikkan dalam menata prilaku kita. Mereka yang menduduki jabatan sebagai pemimpin negeri, mestinya menjadi teladan dan contoh dan menjadi pahlawan yang sebenar-benarnya bagi negerinya, jabatannya tidak terlalu mempengaruhi ketenangan hati dan jiwanya dalam beribadah dan memimpin gembalanya. Namun kenyataan demi kenyataan dari zaman ke zaman masih saja ada pemimpin-pemimpin negeri yang tergiur dengan kekayaan, kemewahan, wanita dan tahta sehingga mengorbankan kearifan dan rasa bijaksana pada diri mereka dan pada akhir kepemimpinannya di kenang sebagai pemimpin yang zalim. Pemimpin itu mengambil hak-hak yang bukan haknya demikekayaannnya, mengorbankan kepemimpinan yang jujur untuk memperoleh kemewahan dan tahta, dan tidak segan-segan melakukan penzaliman dan kezaliman dan inilah perbuatan yang melampoi batas dan berlebih-lebihan itu yang akan mendatangkan kemudharatan.
Marilah kita menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana, menjadi pemimpin-pemimpin yang baik bagi diri kita, keluarga kita. Dan pemimpin yang baik untuk negeri kita yaitu pemimpin yang melawan kezaliman.

Senin, 16 November 2009

Demi Cinta-Ku Pada Mu

Demi cintaku pada mu
Aku pinta pada mu
Janganlah pernah merindukan aku,
Melebihi orang Tua-mu sendiri
Apa lagi melebihi merindukan Tuhan-mu,
Aku pinta pada-mu, sayang-ku
Patuhlah kamu pada Tuhan-mu,
Kemudian patuhlah pada orang Tua-mu,
Selanjutnya sisa-sisa kepatuhanmu itu,
Berikan pada ku
Aku pinta pada mu, kekasih ku
Berhiaslah seanggun mungkin
Untuk Tuhan-mu, kemudian orang tua mu,
Selanjutnya sisa keanggunanmu itu
Berikan pada ku.
Jika engkau telah menyayangiku,
Buatlah kita, lebih menyayangi
Tuhan kita dan kedua orang Tua kita
Jika kau telah mengerti kasih-sayangku pada mu,
Buatlah kita berdua menyukuri,
Kasih-sayang dari Tuhan kita dan juga
Berterima-kasih atas kasih-sayang kedua orang-Tua kita,
Dan menyadari sepenuhnya
Kasih-sayang yang kita punya, adalah
Bagian dari karunia Tuhan kepada kita semua
Jika kau sadari, Aku telah jauh dari mu
Jadikanlah dirimu tak jauh dari kekasih sejatimu,
Dia adalah yang maha kasih-sayang
Yang menganugerahkan segalanya dalam hidup mu
Jika kau sadari, aku tak berarti lagi bagi mu
Jadikanllah kekasih sejatimu begitu berarti
Dalam seluruh sejarah hidupmu,
Karena dialah yang maha memberi arti
Pada setiap helaan dan hembusan nafas hidupmu
Jika kau sadari, aku hanya pantas kau benci
Jadikanlah engkau begitu baik
di pandangan kekasih sejatimu.
JIka aku tak pernah hadir menjumpaimu,
Hingga engkau jenuh menungguku,
Buatlah dirimu, selalu merasakan
Kehadiran kekasih sejatimu.
Begitu dekat menyentuh hati terdalam mu
Hingga, kau merasakan akhrab dan tentram
Karena selalu dekat dengan-Nya
Dialah yang sempurna untuk-mu
Karna dialah yang pantas bertahta di hatimu
Karena hanya dialah kekasih sejati mu
Biarkanlah seluruh rasa tenggelam pada-Nya
Karna dialah yang menguasai hati
Hanyalah kepadanya hati ini disandarkan
Karna ketenangan hati kecuali dengan kehendak-Nya.
Aku mohon kepadamu
Maafkanlah diri ini, yang telah lancang kepada-mu
Menyentuh bagian jasmani-mu
Sebelum semuanya menjadi halal bagi ku
Menjadikan noda pada kesucian jasmani yang kau miliki
Maafkanlah aku, atas kelancangan ku
Menyentuh perasaan mu
Hingga kau merindukan aku
Sebelum semuanya menjadi halal bagi ku
Menjadikan noda pada kesucian hati mu
Maafkanlah aku, atas kelancangan ku itu
Menyentuh pikiran mu
Membut kau memikirkan aku
Sebelum semuanya menjadi halal bagi ku
Menjadikan noda pada kesucian pikiran mu.

Cobalah Kita Sadari

Cobalah kita menyadari bukti kebesaran dan kuasa-Nya
Yang meliputi segala sesuatu di semesta alam
Cobalah kita pahami bukti kebesaran dan kuasa-Nya
Yang meliputi segala sesuatu di semesta alam
Kesempurnaan pada bentuk dan penciptaan-Nya
Pada seluruh alam
Cobalah kita sadari kebenaran para utusanya
Nabi-nabi dan Rasul-rasulnya
Mukzizat dan risalah yang di bawanya
Hanya untuk mentahidkan Allah SWT
Kebenaran kitab Suci AL-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya
Segala hukum, Hikmah dan yang dikisahkan di dalamnya
Segalanya yang dikandungnya adalah kebenaran
Segalanya adalah cahaya rahmatan Lilalamin
Bagi hamba-hamba yang mendamba kebaikan dan kebenaran
Kita sekalian bersaksi atasnya
Cobalah kita pandangi nafas,tulang,urat,darah,daging dan kulit kita
Cobalah kita merasakan hati,pikiran dan rahasia kita
Sinar-sinar yang menerangi kehidupan jasad itu
Kita akan bersama-sama kagum dan memuji-Nya
Kesempurnaan pada bentuk dan penciptaan-Nya
Cobalah kita pandangi matahari
Di kala menerangi siang mu
Cobalah kita pandangi bulan dan bintang-bintang
Menerangi malam hari
Kita akan bersama-sama kagum dan memuji-Nya
Sinar-sinar yang semampu itu
Menerangi jagat raya ini
Cobalah kau pandangi langit
Yang begitu tinggi dan luasnya serta di antara keduanya
Cobalah kau pandangi samudera
Yang begitu luas dan dalamnya serta di antara keduanya
Kita akan bersama-sama kagum dan memuji-Nya
Dialah yang maha sempurna dan yang maha menciptakan
Menciptakan segala sesuatu sebagai karunianya
Kepada hamba-hambanya agar kita semua bersyukur pada-Nya








Apa arti cinta ini ?

Setiap orang sepertinya akrab dengan kata CINTA, dengan definisi-definisi yang unik mendefinisikan kata ini, berbagai untaian kata indah menghiasi dan mendampingi kata ini untuk menjelaskannya pada semua orang, hingga orang lain dapat mengilhami arti demi artinya dalam berhubungan dengan siapapun. Begitu banyak cara membahasakan perasaan yang di miliki oleh seseorang denga cara-cara yang mereka miliki dan di anggap tepat, bahkan terkadang mereka tidak mengerti harus bagaimana cara membahasakannya. Ada sebahagian orang membahasakannya dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat dan agama dan tidak sedikit pula yang mengekspresikannya dengan cara-cara yang ditentang.
Cobalah kita amati disekitar kita, orang-orang yang beralasan karena kata cinta, menulis puisi, mencipta lagu, menari, mengkoleksi, melamun dan berkhayal, memakai narkoba, miras dll, rela menghabiskan waktu dan uang, bahkan tidak segan-segan mengorbankan nilai-nilai kebaikan dan kepatutan demi kecintaannya itu. Suatu kebaikan bagi yang mengaktualisasikannya dengan kebaikan jika sebaliknya itu adalah keburukan dan keagagalan. Seberapa besarnya arti dan penafsiran kata ini di benak dan perasaan kita semua ?. Seberapa besar pengaruh kata ini dalam kehidupan kita ? Akankah kekeliruan dalam mengambil arti dan penafsiran kata ini membelenggu keberadaan kita ditengah peradaban kehidupan kita sekalian?. Apakah kata ini mendapat posisi yang indah, serasi dengan kata-kata indah yang menghiasinya ? entahlah apa arti kata cinta itu?.
Penafsiran akan kata cinta yang melekat pada objek yang diindrai, melibatkan segala rasa dan emosi. Menjadikan pengaktualan rasa yang bertahta pada pikiran dan hatinya, sebagai sumber momentum dari segala perasaannya, dimana bertemunya pikiran dan hatinya menjadi keseimbangannya. Semoga saja tidak bertentangan dengan keseimbangan yang selayaknya. Jika tidak, maka bisa saja kehilangan keseimbangan dalam kosmos perasaannya, dengan kata lain ia akan menjadi tak merasakan apa-apa pada dirinya.
Marilah kita beralasan karena kata cinta / mengaktualisasikan arti dari kata itu dengan penafsiran kita masing-masing yang unik, dengan menggunakan cara-cara sewajarnya, selayaknya, tidak bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan dan agama yang mengajarkan kebaikan di tengah-tengah kehidupan kita sekalian agar kita juga turut menentramkan kualitas kedamaian kehidupan umat manusia yang menjadikan surga di dunianya dan ini adalah salah satu misi kekhalifaan manusia di muka bumi.

Abaikanlah Hal-Hal yang Menjajah Untuk Ketentraman Hati Kita

Bayak kegelisahan dan keresahan yang dirasakan oleh orang-orang yang menjadikan mereka menjadi risih dan sedih diakibatkan oleh hal-hal yang menjajah, yang menjadikan gambaran hati diwajah mereka kusut dan mendung karena pengindaraan hatinya itu. Ini juga adalah gambaran jiwa yang tak merdeka, tak tercerahkan alias tak tenang itu.
Sugguh ini adalah sebagai salah satu bukti keterbatasan manusia sebagai mahluk ciptaan tuhan yang maha esa. Maklumkanlah penginderan itu, mereka melakukan penginraan-pengindraanya dengan berdasarkan atas kepentingan dan kemerdekaan yang semu. Kemerdekaan yang didasarkan soal uang,tahta, jabatan,kekayaan,ketenaran,kepuasan napsu. Pernakah mereka mencoba menggunakan potensi indranya itu untuk melihat ke arah yang lebih dalam yang tidak melupakan asal dirinya yang sebelumnya belum dapat dikatakan menjadi apa-apa. Mereka juga tak pernah mencoba melihat kristal-kristal khalifah yang diembannya.
Coba kita perhatikan, batapa banyaknya manusia yang hidupnya disibukkan oleh kegelisahan, pengetahuannya yang menjajah mereka untuk mengabulkan kehendak nafsu untuk mahkota di kepalanya, manis di lidahnya, isi perutnya, perhiasan di tangannya, perjalanan di kakinya dan diantara perut dan kakinya, serta perhiasan-perhiasan yang lainnya. Merelakan perbuatanya itu agar mendapat pujian dari istri,anak, kluarga dan kerabatnya menjadikan kesombongan merajai hatinya. Ini semua hanya menjadikan dirinya terpenjara dalam kegelisahan dan kesedihan yang panjang di seluruh khidupannya. Seharusnya mereka menjadi merdeka dari penjajahan napsu itu dengan menghabiskan seluruh pagi hingga sorenya dengan pencerahan demi pencerahan dari hari ke hari dengan mengumpulkan kristal-kristal khalifah yang diembannya demi tugas yang mulia itu.

Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu
(QS.Atha-Thalaq:3)
Yakni Letakkanlah setiap persoalan sesuai dengan ukuran,bobot dan kadarnya. Jangann sekali-kali melakukan kezaliman dan melampaui batas.

Benarkah semua penjajahan itu mendapat perhatian dan posisi yang istimewa dalam kehidupan anda ? Pantaskah merelakan nafas, pikiran, hati, darah, otot, kulit, untuk menjadika jiwa jauh dari ketentraman ?
Ibaratnya, bila tujuan utama ke khalifaan dari sebuah tumbuhan yang ditanam adalah tumbuh berkembang dan menghasilkan buah yang baik bagi pemiliknya maka mereka akan mendapat berkahnya. Namun bila tumbuhan itu tak ditanam dan hanya disibukkan dengan urusan buahnya saja, hiangga ia tak sempat menananmnya maka yang akan diperolehnya hanya kerugian dan kekagalan. Ibarat menjadikan diri sebagai mata air yang beracun dimana menjadikan kehidupan tumbuhan-tumbuhan disekitarnya menjadi mati dan kering, maukah anda menjadi mata air yang jernih dan menjadikan tumbuhan-tumbuhan disekitarmu menjadi hidup dan tumbuh subur,,?
Marilah menjadi orang yang merdeka mengabaikan penjajahan, jangan sampai kita disibukkan oleh hal-hal yang menjajah itu dan waktu kita habis karenanya. Dengan begitu menjadikan jiwa kita tentram karena berada dalam kekhalifaan yang sebenarnya.


Rabu, 28 Oktober 2009

Anak manusia

Kisah seorang anak manusia
Yang membalut jiwa dan raganya
Hanyalah rindu dan cintanya
Selalu hadir di setiap harinya
Ketulusan dan keikhlasan mendorongnya
Mensucikan kalbunya
Teruntuk kekasih sejatinya
Menutup lubang kebencian
Menebarkan semerbak kedamaian
Bagi yang ditunjukinya

Jiwanya seakan selalu hidup
Bila mengenang kekasih jiwanya
Ia cahaya di atas cahaya
Memberi rahmat dan kedamaian
Hingga hatinya tak pernah sepi
Tak pernah terusik
Selain kekasihnya itu
Mengisi ruang hatinya
Takadang kebencian dan aniyaya hadir
Tuntunan hatinya hanya mengabaikannya
Hingga cahaya membalut seluruh hatinya